Senin, 11 Januari 2016

chapter 4



            Keesokkan harinya setelah sepulang dari kerja kami janjian kembali di tempat biasa kami biasa melepas rindu. Jam 17.00 WIB kami sudah berkumpul ditempat tersebut. Dan kami pun tanpa basa basi langsung menuju Bogor tempat Adelia. Sebelumnya Dinar sudah memberi tahu Adelia bahwa kita akan mengunjunginya. Jadi sepertinya tidak ada miss communication lagi.  Saat diperjalanan kami saling share pekerjaan kami. Jika di piker-pikir ternyata situasi seperti ini yang bisa membuat kami berkumpul kembali.
            Dua jam perjalan kami ke Bogor melewati macetnya Jakarta akhirnya kami tiba di tempat Adelia. Namun, tak disangka disana sudah banyak orang yang kelihatannya seperti dari kejaksaan karena mereka membawa berkas – berkas yang ada di tempat itu. Dan juga banyak sekali wartawan yang ingin sekali meliput kejadian tersebut. Tanpa pikir panjang kami langsung masuk ke rumah tersebut dan mencari dimana Adelia. Untuk masuk ke rumah Adelia tinggal saat itu pun penuh perjuangan. Kami berempat dikelilingi oleh para wartawan untuk diwawancarai. Namun kami semua akhirnya dapat masuk ke rumah tanpa harus terjebak oleh wawancara dari berbagai wartawan.
            Dan akhirnya kami menemukan Adelia yang berdiri lemas, melihat orang – orang yang dari kejaksaan mengambil berkas – berkas di rumah itu. Dan kami melihat Adelia dibawa oleh para petugas dari kejaksaan untuk diselidiki lebih lanjut. Kami hanya bertemu dengan Adelia sebentar untuk dapat menguatkannya dan mensupportnya. Kami pun berjanji akan datang selalu dalam persidangan Adelia nanti.
            Tak henti – hentinya ibu Adelia menangis ketika anaknya di bawa petugas dari kejaksaan.
“anakku….. pak…… jangan bawa anakku….. aku yakin dia tidak bersalah” tangisnya dengan pilu
“maaf bu, tapi kami harus membawa anak ibu, ini perintah” jawan tegas sang petugas
“iya bu, lebih baik kita pasrahkan saja sama Allah. Mungkin jalannya memang harus seperti ini. Semoga semua baik – baik saja” Dinar menguatkan ibunya
“Sabar ya bu… tolong jangan menangis di depan Adelia bu, kasihan nanti Adelia ikut sedih kalau ibu mengangis. Kita di sini harus bisa menguatkan dia bu” sambung assyifa
“tenang saja bu, kita serahkan saja kepada yang berwenang. Sebisa mungkin kita juga akan bantu Adelia kok bu” jawabku
“ayahku punya seorang teman pengacara, dia sangat handal. Nanti aku coba bantu bicara ya bu” ucap Marsya
“Terima kasih banyak ya semua, kalian memang sahabat – sahabat yang baik untuk Adelia. Tolong maaafkan Adelia ya jika dia punya salah sama kalian”
“sama – sama bu, kami akan selalu ada buat Adelia kok bu…” Jawabku sambil memeluk ibunya
Dan tibalah saatnya persidangan pertama Adelia dimulai, sesuai janji kami berlima aku, Dinar, Marsya dan Assyifa datang untuk menemani persidangan Adelia. Tak ketinggalan, ibu Adelia pun datang untuk menemani anak yang disayangnya tersebut. Dan sampai sidang terakhir pun kami semua setia untuk menemani Adelia. Sedih rasanya saat hakim mengetuk palu dan Adelia dijatuhi hukuman lima tahun penjara. Memang dari bukti – bukti yang ada menguatkan bahwa Adelia bersalah. Semoga dari masalah ini kita semua bisa mengambil hikmahnya. Termasuk aku sendiri. Saat itu kami juga sering mengunjungi Adelia di rutan dan membawakan makanan kesukaannya. Tampak beda sekali saat dia berada dalam rutan. Dia menjadi lebih kurus dan tidak mempunyai semangat. Tapi kami selalu menguatkan dan mensupportnya agar dia nanti bisa bangkit kembali dan tersenyum.
            Tiga tahun berlalu kami sudah mempunya pasangan hidup masing – masing. Namun dari kami berlima hanya Marsya dan Adelia yang belum mendapatkan pasangan hidup mereka. Adelia sangatlah wajar jika dia belum mendapatkan pasangannya. Namun, marsya sepertinya dia mempunyai kekhawatiran sendiri dalam urusan pasangan hidupnya.
            Ketika sepulang dari kerja, aku melihat sebuah surat di atas meja tamu ku. Lalu saat aku dekati ternyata itu adalah sebuah surat undangan. Langsung saja ku buka surat tersebut. Ternyata surat tersebut adalah dari Marsya. Dengan rasa bahagia dan terharu aku membacanya akhirnya Marsya menemukan pasangan hidupnya juga. Seketika grup whatsapp kembali ramai dengan topic “marsya akhirnya menikah” Marsya pun dalam grup tersebut masih malu – malu. Kami merasa sangat surprise dan gembira. Tidak sabar menunggu datangnya hari dimana marsya nanti akan memakai gaun pengantin. Pasti dia cantik banget……  di grup whatsapp tersebut kami terus menggoda marsya. Tapi kami juga masih merasa sedih karena Adelia yang masih ada di rutan dan tidak bisa menyaksikan dan hadir di hari bahagia kami. Meski begitu aku tetap menjadi auditor karena itu adalah cita citaku. Dan aku belajar dari kasus yang dihadapi Adelia. Aku akan menjadi auditor sesuai dengan tanggung jawab dan integritas yang aku punya. Aku berjanji pada diriku sendiri agar tidak membuat keacurangan apapun karena itu dampaknya akan sangat merugikan diri sendiri maupun di sekitar kita. Dan untungnya aku mempunyai suami yang mendukungku dan selalu menegurku ketika aku khilaf melakukan kesalahan.
            Dan beberapa bulan Adelia akan keluar dari rutan. Perusahaan tempat Adelia bekerja sudah ditutup. Perusahaan tersebut memiliki masalah. Rumor yang beredar perusahaan tersebut memiliki kasus yang sama dengan kasus enron yang terjadi pada tahun 2001 silam. kebangkrutan perusahaan tersebut disebabkan terganggunya proses bisnis akibat credit rating perusahaan menurun. Hal ini dikarenakan sebagai perusahaan trading, membutuhkan rating nilai investasi untuk melakukan perdagangan dengan perusahaan lain. Tidak ada nilai yang baik, maka tidak akan ada perdagangan. Terjadinya penurunan nilai rating investasi perusahaan disebabkan hutangnya yang terlalu besar, yang sebelumnya tidak tercatat dalam neraca (off balance sheet) kemudian diklasifikasikan ulang sehingga tercatat dalam neraca (on balance sheet). Hutangnya tidak hanya sebesar $13 juta tetapi bertambah hingga sebesar $38 juta. Klasifikasi ulang dilakukan karena terdapat banyak special purpose entity (SPEs) dan kerjasama yang tidak tercatat dalam neraca yang memiliki banyak hutang. Sehingga terjadi ketidakcocokan saat dilakukan konsolidasi ulang yang kemudian menyebabkan nilai ekuitas perusahaan jatuh. Pada kasus tersebut lembaga – lembaga ekternal pun ikut bertanggung jawab.
            Beberapa bulan berlalu, akhirnya Adelia keluar dari tempat yang menakutkan tersebut. Aku melihat senyum Adelia dan tangis bahagia karena dia sudah bebas. Rasanya lega sekali. Walaupun kami sudah mempunya keluarga kecil masing – masing kami tetap mempunyai waktu untuk berkumpul dan sharing. Tiba – tiba saat kami tengah asyik mengobrol
”temen – temen, tau gak aku bawa apa untuk kalian?” bisik Adelia penuh teka – teki
”apa del ? apaaaa?” tanyaku penasaran
”tadaaa!!” dikeluarkannya undangan pernikahan
”adelllll.................... kamu mau nikah? Kok gak cerita sih?” ujar Marsya sambil cemberut
”iyaa dong kan biar surprise.....” jawab Adelia bahagia
”Adelllllll kita seneng banget dengernya, selamat yaaaaaa” ujar Dinar terharu
Akhirnya kami pun  hidup bahagia bersama keluarga kecil kami.


-SEKIAN-

note: Cerita ini hanya fiktif belaka, demi memenuhi tugas perkuliahan.

chapter 3



            Setelah seharian menanti kabar dari Adelia, akhirnya dia membalas pesan dariku. Pesannya berisi permintaan maaf yang entah apa yang dimaksudnya. Lalu aku membalas lagi pesan tersebut. “ada apa del? Aku tidak mengerti maksudmu”. Tetapi adelia tidak membalas kembali pesan dariku. Aku semakin khawatir terhadapnya. Dan pada sore harinya sewaktu aku sedang bersantai dengan keluargaku di ruang keluarga sambil menonton tv, saat itu tepat pada pukul 17.00 WIB kami menonton acara berita. Acara berita tersebut menayangangkan berita mengenai perusahaan tempat Adelia bekerja yaitu PT. Maju Sejahtera. Dari berita tersebut diceritakan bahwa seorang auditor dari KAP menemukan kejanggalan terhadap laporan yang buat auditor internal pada PT. Maju Sejahtera. Pelanggaran terebut berkaitan dengan pelaksanaan pemeriksaan audit terhadap laporan keuangan PT. Maju Sejahtera pada tahun buku 31 Desember 2015 yang dijalankan oleh Adelia. Dan selain itu Adelia juga melakukan pelanggaran  terhadap pembatasan dalam penugasan audit yaitu Adelia melaksanakan audit umum terhadap laporan keuangan PT. Maju Sejahtera dan PT. Indah Merpati Jaya serta kepada  Apartement Nuansa Bening mulai tahun buku 2012 hingga tahun 2015.
            Berita tersebut menjabarkan beberapa pelanggaran prinsip kode etik diantaranya yaitu, yang pertama prinsip tanggung jawab karena dalam melaksanakan tugasnya dia (Adelia) tidak mempertimbangkan moral dan profesionalismenya sebagai seorang akuntan sehingga dapat menimbulkan berbagai kecurangan dan membuat ditemukannya dugaan korupsi. Yang kedua prinsip integritas, awalnya dia (Adelia) tidak mengakui kecurangan yang dia lakukan hingga pada akhirnya diperiksa dan dikronfontir keterangannya dengan para saksi. Yang ketiga yaitu prinsip obyektifitas karena dia telah bersikap tidak jujur, mudah dipengaruhi oleh pihak lain. Yang keempat prinsip perilaku professional Karena dia tidak konsisten dalam menjalankan tugasnya sebagai akuntan publik telah melanggar etika profesi. Yang kelima prinsip standar teknis karena dia tidak mengikuti undang – undang yang berlaku sehingga tidak menunjukkan sikap profesionalnya sesuai standar teknis dan standar professional yang relevan. Itulah yang telah dikabarkan acara berita dari salah satu stasiun televisi.
            Hal tersebut membuat hatiku menjadi sedih mendengarnya. Aku pun langsung menghubungi teman teman yang lainnya seperti Dinar, Marsya, dan Assyifa. Mereka pun merasa terkejut dan sedih mendengarnya. Dan kami memutuskun untuk bertemu keesokkan harinya. Kami berniat untuk mengunjungi Adelia. Pada keesokan harinya, kami berkumpul di tempat biasa yang sering kami kunjungi. Disana akulah yang datang paling pertama kemudian dilanjutkan oleh Marsya.
“hei vin, assalamualaikum apa kabar?” sapanya kepadaku
“hei sya, Alhamdulillah baik. Kamu bagaimana?” jawabku
“ vin, aku kaget banget lho denger berita di tv tentang Adelia.. aku sedih dengernya” ucapnya sambil menghela nafasnya
“ sama sya, langsung shock dengernya. Selama ini Adelia juga ga pernah cerita apa-apa walaupun kita ibaratnya satu pekerjaan” jawabku dengan perasaan sedih
“ oh iya vin, yang lain pada kemana?”
“ belum pada datang sya, masih pada dijalan. Coba aja kamu cek grup di whatsapp”
“oh iya nih, Dinar bentar lagi katanya mau sampai”
Tak lama kemudian Dinar pun datang dengan wajah sedihnya.
“vin, syaaa…………………. Adeliaaaaaaaa kenapaaaaaa?” teriaknya dengan kencang
“iya nar, kita juga semua kaget dengernya” jawabku
“yuk, sekarang aja yuk kita ke rumahnya Adelia. Aku ga sabar pengen tahu apa yang terjadi sama dia……. Pasti dia sekarang lagi merasa kebingungan sekali. Aku kasihan padanya” ujarnya tanpa henti
“sabar nar, syifa aja belum datang” jawab marsya
“iya tapi………”
“udah mendingan kita pesan minum dulu biar rileks. Lagian syifa belum datang juga” kata marsya
“iya bener juga yaaa” jawab dinar
Beberapa menit minuman datang, syifa pun akhirnya tiba juga.
“ Hai, teman – teman. Maaf yaaaa…….. aku telat ya?” terengah – engah
“ as always ya kamu…………” sambung dinar
“iya maaf ya….. tadi ada masalah sedikit dirumah”
“iyaa, gapapa kok” jawabku
“terus gimana jadinya” Tanya assyifa
“yaudah, mending sekarang aja yuk kita langsung ke rumahnya” ujar dinar
Akhirnya kami pun langsung menuju rumah Adelia menggunakan taksi.
            Sesampai dirumahnya, kami tidak bisa bertemu dengan siapa – siapa. Ruhamnya terlihat sepi, seperti tidak ada tanda kehidupan didalamnya. Kami pun berinisiatif untuk bertanya kepada tetangga dekat rumah Adelia. Dan jawaban mereka juga tidak jelas, kami tidak dapat informasi apapun dari mereka. Kami sangat kebingungan. Entah harus bertanya kepada siapa lagi untuk mencari keberadaan Adelia.
“ duh….. kemana ya Adelia? “ Dinar dengan paniknya.
“tenang nar, kita harus calm down kalau kalau berada di situasi seperti ini. Jangan panic. Nanti kalau kamu panik semuanya juga ikut panik” jawab marsya dengan tenang
“ tapi kita sudah cari dia sampai tanya tetangga sana sini, belum juga dapat informasi apa – apa”  keluhnya
Sebenarnya aku juga merasakan kekecewaan yang dirasakan oleh dinar. Dan berfikir sebenarnya apa salah kita. Kita hanya ingin mensupport dia dan menenangkan Adelia agar perasaannya tidak buruk. Setidaknya kami ingin selalu ada untuknya karena kami adalah sahabat yang tidak hanya ada jika dia bahagia tetapi mau merangkul dan mensupportnya jika dia berada dalam kesusahan ataupun ada masalah. Tapi kenapa untuk mencarinya saja susah sekali. Tapi mungkin Adelia seperti itu karena dia mempunyai alasan. Mungkin saja dia sedang sibuk mengurus masalahnya atau mungkin dia butuh ketenangan. Dan karena sudah malam kami pun segera pulang ke rumah masing- masing karena ke esokkan harinya kami harus menjalankan rutinitas kami untuk bekerja seperti biasa.
“yaudah, aku pulang duluan ya, takut kalau kemaleman”  ucap marsya dengan wajah lelahnya
“iya, sama aku juga ya… kayaknya kita buang – buang waktu saja menunggu di depan rumahnya” sambung assyifa
“yasudahlah, kamu mau pulang bareng aku gak vin?” tanya dinar
“mau nar, aku gak ada barengan nih” jawabku
“yaudah sampai ketemu lagi ya, nanti kabar – kabaran lagi deh buat jenguk Adelia” ujar marsya
“oke, biar nanti aku yang coba menghubungi Adelia ya….” sambung Dinar
“yaudah yuk nar, sampai ketemu nanti ya teman – teman” ucapku sambil melambaikan tangan
“iyaa vin, sampai ketemu lagi yaaa..... bye - bye………” ujar Marsya sambil berjalan dengan bedan beda  arah.
“hati hati ya kalian…” ucap assyifa
Kami pun akhirnya pulang kembali kerumah masing – masing. Namun kami masih ramai di grup whatsapp kami untuk merencanakan kembali menjenguk Adelia.
Tiba – tiba Dinar memberi kabar, bahwa dia sudah mendapatkan kabar dari Adelia.
“eh teman – teman, aku sudah dapat kabar nih dari Adelia” ujarnya di grup
“yang bener nar? Jawab kami semua dengan serius
“iyaa, serius. Dia membalas pesanku tadi saat aku sedang mandi”
“apa nar katanya?” ucapku di grup whatsapp
“iya, dia menyampaikan salam untuk kalian semua, dan permintamaafannya” kata dinar
“dia lagi ada di bogor, untuk menenangkan dirinya sebelum hukum menjeratnya” kata dinar lagi.
“yaudah besok epulang kerja kita langung ke bogor aja yuk, aku bawa mobil kok” sambungku
Dan semuanya setuju dengan rencanaku.

Rabu, 30 Desember 2015

perkembanga etika bisnis dan profesi



Pengertian Etika
Menurut para ahli etika tidak lain adalah aturan perilaku, adat pergaulan manusia dalam pergaulan antar sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk.
Kata Etika sendiri berasal dari kata ETHOS dari bangsa Yunani yang memiliki arti nilai – nilai, norma – norma, kaidah dan ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik, seperti yang didefinisikan oleh bebrapa ahli sebagai berikut :
Drs. O.P Simorangkir
Etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berperilaku menurut ukuran dan nilai yang baik
Drs. Sidi. Gajalba dan Sistematika filsafat
Etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal
Drs. H. Burhanudin Salam
Cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya.
Pengertian Profesi
Istilah profesi telah dimengerti oleh banyak orang bahwa suatu hal yang berkaitan dengan bidang yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan keahlian, sehingga banyak orang bekerja tetap sesuai. Tetapi dengan memiliki keahlian saja yang diperoleh dari pendidikan kejuruan belum cukup dapat dikatakan sebagai profesi, tetapi, perlu memiliki penguasaan sistematis yang mendasari praktek pelaksanaan, dan hubungan antar teori dan praktek pelaksanaan.
Kode etik profesi
Kode etik profesi merupakan suatu tatanan etika yang telah disepakati oleh suatu kelompok masyarakat tertentu. Kode etik umumnya termasuk dalam norma sosial, namun bila ada kode etik yang memiliki sangsi yang agak berat, maka masuk dalam kategori norma hukum.
Kode Etik juga dapat diartikan sebagai pola aturan, tata cara, tanda, pedoman etis dalam melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan. Kode etik merupakan pola aturan atau tata cara sebagai pedoman berperilaku. Tujuan kode etik agar profesional memberikan jasa sebaik-baiknya kepada pemakai atau nasabahnya. Adanya kode etik akan melindungi perbuatan yang tidak profesional.
Perkembangan etika bisnis menurut Bertens (2000):
1. Situasi Dahulu Pada awal sejarah filsafat, Plato, Aristoteles, dan filsuf-filsuf Yunani lain menyelidiki bagaimana sebaiknya mengatur kehidupan manusia bersama dalam negara dan membahas bagaimana kehidupan ekonomi dan kegiatan niaga harus diatur.
2. Masa Peralihan: tahun 1960-an ditandai pemberontakan terhadap kuasa dan otoritas di Amerika Serikat (AS), revolusi mahasiswa (di ibukota Perancis), penolakan terhadap establishment (kemapanan). Hal ini memberi perhatian pada dunia pendidikan khususnya manajemen, yaitu dengan menambahkan mata kuliah baru dalam kurikulum dengan nama Business and Society. Topik yang paling sering dibahas adalah corporate social responsibility.
3. Etika Bisnis Lahir di AS: tahun 1970-an sejumlah filsuf mulai terlibat dalam memikirkan masalah-masalah etis di sekitar bisnis dan etika bisnis dianggap sebagai suatu tanggapan tepat atas krisis moral yang sedang meliputi dunia bisnis di AS.
4. Etika Bisnis Meluas ke Eropa: tahun 1980-an di Eropa Barat, etika bisnis sebagai ilmu baru mulai berkembang kira-kira 10 tahun kemudian. Terdapat forum pertemuan antara akademisi dari universitas serta sekolah bisnis yang disebut European Business Ethics Network (EBEN).
5. Etika Bisnis menjadi Fenomena Global: tahun 1990-an tidak terbatas lagi pada dunia Barat. Etika bisnis sudah dikembangkan di seluruh dunia. Telah didirikan International Society for Business, Economics, and Ethics (ISBEE) pada 25-28 Juli 1996 di Tokyo.
Etika Profesional Profesi Akuntan Publik
Setiap profesi yang menyediakan jasanya kepada masyarakat memerlukan kepercayaan dari masyarakat yang dilayaninya. Kepercayaan masyarakat terhadap mutu jasa akuntan publik akan menjadi lebih tinggi, jika profesi tersebut menerapkan standar mutu tinggi terhadap pelaksanaan pekerjaan profesional yang dilakukan oleh anggota profesinya. Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik merupakan etika profesional bagi akuntan yang berpraktik sebagai akuntan publik Indonesia. Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik bersumber dari Prinsip Etika yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Dalam konggresnya tahun 1973, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) untuk pertama kalinya menetapkan kode etik bagi profesi akuntan Indonesia, kemudian disempurnakan dalam konggres IAI tahun 1981, 1986,1994, dan terakhir tahun 1998. Etika profesional yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia dalam kongresnya tahun 1998 diberi nama Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia.
Akuntan publik adalah akuntan yang berpraktik dalam kantor akuntan publik, yang menyediakan berbagai jenis jasa yang diatur dalam Standar Profesional Akuntan Publik, yaitu auditing, atestasi, akuntansi dan review, dan jasa konsultansi. Auditor independen adalah akuntan publik yang melaksanakan penugasan audit atas laporan keuangan historis yang menyediakan jasa audit atas dasar standar auditing yang tercantum dalam Standar Profesional Akuntan Publik. Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia dijabarkan ke dalam Etika Kompartemen Akuntan Publik untuk mengatur perilaku akuntan yang menjadi anggota IAI yang berpraktik dalam profesi akuntan publik.

Perkembangan etika bisnis menurut Bertens (2000): 1. Situasi Dahulu Pada awal sejarah filsafat, Plato, Aristoteles, dan filsuf-filsuf Yunani lain menyelidiki bagaimana sebaiknya mengatur kehidupan manusia bersama dalam negara dan membahas bagaimana kehidupan ekonomi dan kegiatan niaga harus diatur. 2. Masa Peralihan: tahun 1960-an ditandai pemberontakan terhadap kuasa dan otoritas di Amerika Serikat (AS), revolusi mahasiswa (di ibukota Perancis), penolakan terhadap establishment (kemapanan). Hal ini memberi perhatian pada dunia pendidikan khususnya manajemen, yaitu dengan menambahkan mata kuliah baru dalam kurikulum dengan nama Business and Society. Topik yang paling sering dibahas adalah corporate social responsibility. 3. Etika Bisnis Lahir di AS: tahun 1970-an sejumlah filsuf mulai terlibat dalam memikirkan masalah-masalah etis di sekitar bisnis dan etika bisnis dianggap sebagai suatu tanggapan tepat atas krisis moral yang sedang meliputi dunia bisnis di AS. 4. Etika Bisnis Meluas ke Eropa: tahun 1980-an di Eropa Barat, etika bisnis sebagai ilmu baru mulai berkembang kira-kira 10 tahun kemudian. Terdapat forum pertemuan antara akademisi dari universitas serta sekolah bisnis yang disebut European Business Ethics Network (EBEN). 5. Etika Bisnis menjadi Fenomena Global: tahun 1990-an tidak terbatas lagi pada dunia Barat. Etika bisnis sudah dikembangkan di seluruh dunia. Telah didirikan International Society for Business, Economics, and Ethics (ISBEE) pada 25-28 Juli 1996 di Tokyo.

sumber:
http://njfernandosimatupang.blogspot.co.id/2012/12/sejarah-perkembangan-etika-profesi.html
 

kasus manajemen krisis perusahaan disebabkan bencana alam



Definisi dan Pengertian Krisis
Ada perbedaan yang mendasar antara “Manajemen Krisis” dan “Krisis Manajemen”. Manajemen krisis merupakan suatu manajemen pengelolaan, penanggulangan atau pengendalian krisis hingga pemulihan citra perusahaan. Sedangkan krisis manajemen merupakan kegagalan dari peranan manajemen krisis dan persoalannya menjadi sulit untuk dipulihkan karena perusahaan yang bersangkutan dinyatakan “bubar” baik secara hukum maupun operasionalnya.
Pada umumnya, krisis dilihat sebagai suatu situasi atau kejadian yang lebih banyak mempunyai implikasi negatif pada organisasi daripada sebaliknya.
K. Fearn-Banks mendefinisikan krisis sebagai “Suatu kejadian penting dengan hasil akhir cenderung negatif yang berdampak baik terhadap sebuah organisasi, perusahaan atau industri, maupun terhadap publik, produk, servis atau reputasinya”. Biasanya sebuah krisis mengganggu transaksi normal dan kadang mengancam kelangsungan hidup atau keberadaan organisasi.
Krisis pada dasarnya adalah sebuah situasi yang tak terduga, artinya organisasi umumnya tidak dapat menduga bahwa akan muncul situasi yang dapat mengancam keberadaannya. Sebagai ancaman, ia harus ditangani secara cepat agar organisasi dapat berjalan normal kembali. Untuk itu, Holsti melihat krisis sebagai “situasi yang dikarakterisasikan oleh kejutan, ancaman besar terhadap nilai-nilai penting, serta waktu memutuskan yang sangat singkat”. Krisis membawa keterkejutan dan sekaligus mengancam nilai-nilai penting organisasi serta hanya ada waktu yang singkat untuk mengambil keputusan.
Shrivastava & Mitroff mendefinisikan krisis perusahaan sebagai “peristiwa yang mengancam tujuan terpenting untuk bertahan dan mendapatkan keuntungan”. Krisis, menurut mereka diasosiasikan dengan kerusakan yang berskala luas terhadap kehidupan manusia, lingkungan alam dan institusi sosial dan politik.
Pauchant & Mitroff mengatakan bahwa krisis merupakan “sebuah gangguan yang secara fisik memberikan dampak pada suatu sistem sebagai suatu kesatuan serta mengancam asumsi dasarnya, kesadaran subjektif akan dirinya serta pusat keberadaannya”. Menurut mereka, krisis biasanya memiliki tiga dampak, yaitu ancaman terhadap legitimasi organisasi, adanya perlawanan terhadap misi organisasi serta terganggunya cara orang melihat dan menilai organisasi.
C.G. Linke melihat krisis sebagai ketidaknormalan dari konsekuensi negatif yang meng-ganggu operasi sehari-hari sebuah organisasi. Menurutnya, sebuah krisis akan berakibat pada adanya kematian, menurunnya kualitas kehidupan dan menurunnya reputasi perusahaan.
Bagi Laurence Barton (1993:2), sebuah krisis adalah peristiwa besar yang tak terduga yang secara potensial berdampak negatif terhadap baik perusahaan maupun publik. Peristiwa ini mungkin secara cukup berarti merusak organisasi, karyawan, produk dan jasa yang dihasilkan organisasi, kondisi keuangan dan repuasi perusahaan.
Michael Regester & Judy Larkin (2003:131) mendefinisikan krisis sebagai sebagai sebuah peristiwa yang menyebabkan perusahaan menjadi subjek perhatian luas (cenderung tidak menyenangkan) dari media nasional dan internasional serta kelompok-kelompok seperti pelanggan, pemegang saham, karyawan & keluarga mereka, para politisi, serikat perdagangan serta kelompok-kelompok penekan yang, dengan suatu alasan atau lebih, memiliki kepentingan yang dibenarkan terhadap kegiatan-kegiatan organisasi.
Namun ada juga beberapa pakar yang melihat bahwa krisis tidak selalu menjadi penyebab perusahaan pada kebangkrutan. Contohnya Steven Fink yang melihat krisis sebagai “suatu waktu/keadaan yang tak stabil terhadap suatu masalah sehingga sebuah perubahan penting akan terjadi – baik perubahan dengan kemungkinan yang mudah dilihat akan hasil yang sangat tidak diharapkan atau perubahan dengan kemungkinan yang mudah dilihat akan hasil positif yang sangat diharapkan”.
Dalam kamus Webster, krisis didefinisikan sebagai “suatu titik balik untuk menuju keadaan lebih baik atau lebih buruk”. Jadi dari suatu situasi ini, perusahaan dapat menjadi lebih baik atau lebih buruk. Contoh perusahaan yang menjadi lebih baik setelah krisis adalah Johnson & Johnson yang berhasil mengatasi kasus racun sianida dalam Tylenol, salah satu produk obat sakit kepala unggulannya sehingga reputasi perusahaannya justru terangkat.
Apakah sebuah krisis akan menjadikan organisasi menjadi lebih baik atau lebih buruk sangat tergantung pada bagaimana pihak manajemen mempersepsi dan kemudian merespon situasi tersebut atau sangat tergantung pada pandangan, sikap dan tindakan yang diambil terhadap krisis tersebut. Sebuah krisis mungkin dapat ditangani dengan segera dengan melibatkan sedikit orang, tetapi krisis lain mungkin harus ditangani dengan mengerahkan sebagian besar sumber daya yang dimiliki organisasi
Krisis tidak pandang bulu dan bisa menimpa siapa saja. Seperti kata Barton (1993:3): “Krisis menyerang korporasi, organisasi non profit, badan-badan pemerintahan, servis, perusahaan hingga keluarga”. Setiap organisasi sangat punya peluang untuk mengalami krisis.
Pinsdorf menambahkan bahwa “tidak ada satu perusahaan pun yang kebal terhadap krisis, tetapi dengan riset, perencanaan dan pelatihan yang penuh kewaspadaan, biasanya krisis dapat dikelola dan dikurangi dampaknya.”
2. Penyebab Krisis
Mengenali jenis atau tipe krisis penting mengingat masalah penentuan siapa yang bersalah dan respon yang harus dibuat perusahaan yang sedang menghadapi krisis. Berikut ini adalah beberapa tipe krisis yang dikemukakan para pakar menggunakan berbagai dimensi (Putra, 1999:90-94):
v Sturges dkk
ð Dimensi violent-non violent dan dimensi sengaja-tak sengaja.
v Shrivastava & Mitroff
ð Dimensi kerusakan yang dihasilkan (berat/ringan) dan dimensi penyebab krisis dari segi teknis dan sosial.
v Marcus & Goodman
ð Dimensi tingkat kemungkinan ditolak dan berdasarkan keadaan korban krisis.
v C.G. Linke
ð Dimensi waktu kemunculan sebuah krisis.
Shrivastava & Mitroff membagi krisis ke dalam empat kategori berdasarkan penyebab krisis dikaitkan dengan tempat krisis. Penyebab krisis dapat dikategorikan menjadi dua bagian besar: penyebab teknis dan ekonomis serta penyebab manusiawi, organisatoris dan sosial. Mereka juga mengkategorikan penyebab krisis dilihat dari sudut tempat asal atau kejadian apakah di dalam atau di luar organisasi. Berdasarkan kategori ini, mereka membuat empat sel untuk melihat Tipologi Krisis:
TIPOLOGI KRISIS
Teknis/Ekonomis
SEL 1
SEL 2


ð Krisis yang disebabkan adanya kegagalan teknis ekonomis di dalam organisasi:
ð Krisis yang disebabkan faktor teknis-ekonomis yang terjadi di luar perusahaan:
* Kecelakaan kerja
* Perusakan lingkungan yang meluas
* Kerusakan produk
* Bencana alam
* Kemacetan computer
* Hostile Takeover (pengambilalihan yg kasar)
* Informasi yang rusak/kurang sempurna
* Krisis social

* Kerusakan sistem berskala luas
INTERNAL
EKSTERNAL
SEL 3
SEL 4


ð Krisis yang disebabkan oleh faktor-faktor sosial/manusia dan manajemen yang bersumber di dalam perusahaan:
* Kegagalan beradaptasi/melakukan perubahan
ð Krisis yang terjadi karena faktor2 sosial di luar lingkungan organisasi, yakni adanya orang/kelompok yang bereaksi secara negatif terhadap perusahaan:
* Sabotase oleh orang dalam (karyawan)
* Symbolic projection
* Kemacetan organisasional (pemogokan)
* Sabotase orang luar
* Kemacetan komunikasi
* Teroris, penculikan eksekutif
* On-site product tampering
* Off-site product tampering
* Aktivitas ilegal
* Pemalsuan/peniruan produk
* Penyakit karena pekerjaan



Manusia/Organisasional/Sosial
Dengan demikian, penyebab krisis menurut mereka dapat dikategorikan menjadi:
a) Karena kesalahan manusia (human error)
b) Karena kegagalan teknologi
c) Karena alasan sosial (kerusuhan, perang, sabotase, teroris)
d) Karena berkaitan dengan bencana alam
e) Karena ketidakbecusan manajemen
Sebuah krisis mungkin disebabkan hanya satu faktor, tetapi sangat sering terjadi krisis akibat kombinasi faktor-faktor di atas. Contohnya adalah kasus kecelakaan Bhopal di bulan Desember 1984. 40 ton gas beracun methyl isocyanate bocor dari tank penyimpan bawah tanah pada pabrik pestisida Union Carbide dan menewaskan 3000 orang serta ratusan ribu orang terkena radiasinya. Di sini, ada faktor kesalahan manusia karena membiarkan masuknya air ke dalam tank yang menyebabkan peledakan. Namun juga ada kegagalan teknologi akibat rancangan pabrik tersebut tidak memperhitungkan kemungkinan human error yang terjadi serta tidak berfungsinya mekanisme penyelamat. Faktor dominan penyebab ledakan tersebut adalah masalah manajerial berupa kurangnya prosedur penyelamatan serta kurangnya latihan operator. Secara sosial pun proyek ini kurang layak karena pemerintah India mengijinkan pabrik ini beroperasi di kawasan perkampungan yang padat.
Dalam buku Rosady Ruslan (1999:99-100) diberikan beberapa contoh peristiwa yang berpotensi menjadi krisis sebagai berikut:
1) Masalah pemogokan atau perselisihan perburuhan.
2) Produk kedapatan tercemar/terkontaminasi menjadi racun yang membahayakan masyarakat sebagai konsumennya.
3) Desas-desus atau rumor dan meluasnya berita yang bersifat negatif atau terciptanya opini publik yang kurang menguntungkan.
4) Masalah pencemaran atau kerusakan lingkungan hidup dan alam yang disebabkan ulah manusia, serta kecelakaan industri.
5) Kredit macet, issue kalah kliring, likuidasi dan deposito akan dikonversikan menjadi obligasi di bank-bank pemerintah atau swasta yang pada akhirnya dapat terjadi rush sehingga menurun-kan kepercayaan dan citra perbankan nasional, krisis moneter serta berakibat resesi ekonomi.
6) Kecelakaan industri atau jatuhnya sebuah pesawat yang mengakibatkann kerugian harta benda dan korban jiwa, serta menimbulkan peristiwa traumatik atas jasa perusahaan penerbangan bersangkutan.
7) Perubahan peraturan perundangan-undangan atau kebijakan pemerintah yang menyebabkan pihak perusahaan mengalami kerugian atau kebangkrutan bisnis.
8) Peristiwa menakutkan yang diakibatkan oleh serangan teroris, masalah sara, krisis moneter, sosial dan politik, sehingga menimbulkan kasus penjarahan, pembakaran, dan sebagainya yang berkait dengan masalah sensitif atau timbulnya kasus-kasus sangat peka lainnya di masyarakat.
9) Kegagalan dari suatu kampanye, promosi periklanan atau publikasi menimbulkan dampak negatif; seperti adanya unsur penipuan, pelecehan dan penghinaan sehingga terjadi protes atau kecaman dari masyarakat luas.
Maria Wongsonagoro (1995:1) menambahkan beberapa sebab terjadinya krisis (yang beberapa di antaranya sudah disebutkan di atas):
a) Krisis persepsi masyarakat, yakni negatifnya opini publik terhadap perusahaan.
b) Krisis akibat pergeseran pasar yang terjadi dengan tiba-tiba dan perusahaan dapat kehilangan pangsa.
c) Krisis yang menyangkut produk, entah itu akibat salah satu produksi atau produk terkena issue sehingga citranya jatuh, dan sebagainya.
d) Krisis yang diakibatkan oleh pergeseran pimpinan.
e) Krisis yang ditimbulkan oleh masalah keuangan.
f) Krisis yang menyangkut hubungan industri, apakah itu urusan tenaga kerja, keselamatan kerja, lingkungan dan sebagainya.
g) Krisis yang diakibatkan pengambilalihan perusahaan oleh perusahaan lain dalam suasana permusuhan atau hostile takeover.
h) Krisis yang diakibatkan oleh peristiwa-peristiwa internasional yang berdampak negatif terhadap perusahaan.
i) Krisis yang disebabkan oleh peraturan-peraturan baru yang digariskan oleh pemerintah atau deregulasi.
Bila perusahaan kita bergerak dalam bidang manufaktur (terutama jika ada produk-produk yang berhubungan dengan lingkungan dan medis), transportasi, produk makanan, penginapan dan konstruksi, resiko mengalami krisis sangat tinggi. Karena itu, bagi mereka yang bekerja pada perusahaan-perusahaan di atas harus mempersiapkan diri terhadap kemungkinan terjadinya krisis.
3. Akibat dari Krisis
Dalam Rosady Ruslan (1999:73), disebutkan situasi krisis pada suatu perusahaan atau organisasi akan menimbulkan hal-hal sebagai berikut:
a) Meningkatkan intensitas masalah
b) Menjadi sorotan publik, baik melalui liputan media massa, informasi yang disebarkan melalui mulut ke mulut.
c) Mengganggu kelancaran kegiatan dan aktivitas bisnis sehari-hari serta mengganggu nama baik serta citra perusahaan.
d) Merusak sistem kerja, etos kerja dan mengacaukan sendi-sendi perusahaan secara total yang mengakibatkan lumpuhnya kegiatan.
e) Membuat masyarakat ikut-ikutan panik.
f) Mengundang campur tangan pemerintah, yang mau tidak mau harus turut mengatasi masalah yang timbul.
g) Dampak atau efek dari krisis tersebut, tidak saja merugikan perusahaan yang bersangkutan, tetapi juga masyarakat tertentu atau lainnya ikut merasakan akibatnya.
HUBUNGAN ANTARA ISSUE, OPINI PUBLIK DAN KRISIS
Di bahasan sebelumnya, kita membaca bahwa salah satu peristiwa yang berpotensi menjadi krisis adalah opini publik yang kurang menguntungkan. Sebelum kita melihat hubungan hubungan antara issue, opini publik dan krisis, tentu saja kita harus mengetahui apa yang dimaksud dengan opini publik (setelah kita mengetahui pengertian issue dan krisis).
Menurut Scott Cutlip, Allen Center & Glen Broom, opini publik “mencerminkan sebuah konsensus, yang muncul setelah beberapa saat, dari seluruh pandangan yang ditujukan terhadap suatu permasalahan dalam diskusi, dan konsensus tersebut memiliki kekuatan”.
Opini publik bekerja dalam dua cara, yaitu sebagai sebab dan sekaligus sebagai akibat dari kegiatan PR. Opini publik yang dipegang teguh akan mempengaruhi keputusan manajemen. Sebaliknya, tujuan program PR adalah untuk mempengaruhi opini publik.
Sebagian besar masyarakat memiliki opini terhadap berbagai hal. Dan bila opini mereka digabungkan serta difokuskan oleh media massa, maka opini perorangan atau kelompok tersebut dapat menjadi sebuah opini publik. Media tidak mendikte apa yang masyarakat pikirkan, namun mereka menyediakan sarana untuk membahas permasalahan-permasalahan dan memperkuat pandangan ‘publik’ jika suatu masalah menjadi sorotan.
Bila kita kembali kepada pengertian dari issue sebagai “suatu masalah yang belum terpecahkan namun siap diambil keputusannya”, mulai terlihat benang merah dalam hubungan antara issue, opini publik dan krisis. Seperti sudah dibahas dalam materi sebelumnya, sebuah issue yang timbul ke permukaan adalah suatu kondisi atau peristiwa, baik di dalam maupun di luar organisasi, yang jika dibiarkan akan mempunyai efek yang signifikan pada fungsi atau kinerja organisasi tersebut atau pada target-target organisasi tersebut di masa mendatang. Bila issue yang muncul tersebut tidak dikendalikan dan dikelola dengan baik, maka potensinya untuk menjadi krisis sangat besar. Suatu issue bisa berasal dari sebagian kecil populasi. Namun jika mereka tertarik terhadap masalah tersebut dan bersama-sama bergabung menjadi kelompok yang besar serta dibantu oleh media massa dalam memfokuskan masalahnya, maka issue tersebut akan berkembang, meluas di masyarakat sehingga menjadi issue publik yang dapat mempengaruhi kinerja atau target suatu bisnis.
Contohnya adalah kasus pencemaran teluk Buyat oleh PT. Newmont Minahasa Raya. Issue muncul dari luar perusahaan dan dari suatu populasi kecil, yakni penyakit gatal-gatal yang diderita oleh masyarakat sekitar teluk tersebut. Adanya LSM (WALHI) yang mengadakan penelitian pada teluk Buyat dan menemukan kandungan merkuri mencemari teluk tersebut dan menuding PT. NMR bertanggungjawab dalam kasus pencemaran lingkungan ini. Dibantu dengan LBH Kesehatan yang “mengompori” masyarakat sekitar PT. NMR dengan mengklaim bahwa penyakit gatal-gatal yang diderita oleh mereka berasal dari pencemaran teluk Buyat, maka masyarakat sekitar PT. NMR ini bersama-sama dengan LBH Kesehatan dan WALHI menuntut pertanggunganjawaban PT. NMR dalam masalah tersebut. Media massa mulai mengangkat issue tersebut sehingga liputan kasus ini semakin meluas. Ketidaksiapan PT. NMR dalam mengendalikan dan mengelola issue menyebabkan issue berubah menjadi krisis. Pemerintah sebagai otoritas kekuasaan perundangan tertinggi mulai terlibat dan pada akhirnya meminta PT. NMR menghentikan kegiatan operasionalnya agar issue mereda. Kasus ini jelas sekali memperlihatkan hubungan antara issue, opini publik dan krisis.


Contoh Kasus
PT. TELKOM
“Indonesia rentan terhadap bencana alam dan peristiwa-peristiwa di luar kendali kami, yang berpengaruh negatif pada bisnis dan hasil usaha kami”

“Banyak daerah di Indonesia, termasuk daerah di mana kami beroperasi, rentan terhadap bencana alam seperti banjir, petir, angin ribut, gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, kebakaran dan juga kekeringan, pemadaman listrik dan peristiwa lainnya yang berada di luar kendali kami. Kepulauan Indonesia adalah salah satu daerah vulkanik paling aktif di dunia karena berada di zona konvergensi dari tiga lempeng litosfer utama, sehingga mengalami aktivitas seismik yang dapat menyebabkan gempa bumi, tsunami atau gelombang pasang yang merusak. Dari waktu ke waktu, bencana alam telah menelan korban jiwa, merugikan atau membuat sejumlah besar masyarakat mengungsi dan merusak peralatan kami. Peristiwa-peristiwa seperti ini telah terjadi di masa lalu, dan dapat terjadi lagi di masa depan, mengganggu kegiatan usaha kami, menyebabkan kerusakan pada peralatan dan memberikan pengaruh buruk terhadap kinerja finansial dan keuntungan kami.”
“Gempa bumi yang melanda sebagian wilayah Jawa Barat pada tanggal 2 September 2009 menyebabkan kerusakan pada aset Perusahaan. Pada tanggal 30 September 2009 terjadi gempa di Sumatera Barat, yang mengganggu penyediaan layanan telekomunikasi di beberapa lokasi. Walaupun Tim Manajemen Krisis kami bekerjasama dengan karyawan dan mitra kami berhasil memulihkan layanan dengan cepat, gempa tersebut menyebabkan kerusakan parah terhadap aset kami. Ada sejumlah gempa bumi terdeteksi pada tahun 2010 hingga 2013, walau tidak satupun yang memberikan risiko signifikan terhadap bisnis kami pada umumnya.”

Analisis:
Dari contoh kasus yang didapat, PT. Telkom sudah baik dalam menangani manajemem krisis, dan akan lebih baik lagi ditingkatkan kinerjanya dalam mengatasi masalah yang ada.

Sumber: